Kontes Anggrek Citra Garden Orchid Fair Terbesar di Banjarmasin

Banjarmasin bukan barometer anggrek nasional. Selama ini sumber anggrek bagus berasal dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Namun, dalam lomba anggrek Citra Garden Orchid Fair pada 27 Mei 2007 di Provinsi Kalimantan Selatan, anggapan itu terbantahkan.

Menurut Lukas BK Parnata, salah satu juri dari Bandung, kontes anggrek di Banjarmasin termasuk istimewa untuk ukuran daerah. “Beberapa peserta bila ikut lomba di Jawa bisa masuk nominasi (juara, red),” kata Lukas. Hal serupa diutarakan Hj Rosliana Tajudin. Menurut ketua PAI cabang Banjarmasin itu, kontes anggrek kedua yang diselenggrakan kali ini merupakan yang terbesar. “Biasanya lomba hanya diikuti 40-50 peserta, tapi sekarang total peserta mencapai 91 tanaman,” ujar Rosliana. Kontestan pun tak hanya berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, tapi juga dari Kalimantan Timur.

Kualitas peserta di kontes Banjarmasin memang tak kalah dibandingkan 3 kota besar pencetak anggrek bermutu di Pulau Jawa. Trubus melihat Phalaenopsis Sunrise “Red Peoxer” berdaun hijau mulus dengan bunga serempak menghadap ke depan. Sementara di section dendrobium hibrida, tampak dendrobium 11 tangkai dengan jumlah bunga antara 30-50 kuntum per tangkai. Posisi bunga bergerombol seperti sarang tawon.

Penjurian dimulai pada pukul 12.00 WITA dilakukan dengan sistem voting untuk mempersingkat waktu. Meski begitu, pemilihan tetap membuat kepala juri pening, terutama di section dendrobium. Section dendrobium paling banyak menyedot peserta, 50 tanaman: 34 hibrida dan 16 spesies. Maklum, pada saat kontes diselenggarakan, anggota famili Orchidaceae itu yang paling siap lomba lantaran musim bunga. Selain itu, iklim Banjarmasin paling cocok untuk pertumbuhan anggrek dataran rendah itu. Pantas bila persaingan ketat terjadi di kategori dendrobium.

3 Tahap

Setelah melewati 3 tahap pemilihan, akhirnya kelima juri: Ir Nana, MS dan Drs Helmi Sansa dari PAI Banjarmasin, Ir Wahdiah, MS dari PKK provinsi, dan 2 juri Bandung, Lukas BK Parnata dan Bernard sepakat, Dendrobium Golden Rood x Dendrobium Husmadi sebagai the best in show. Anggrek koleksi Vincent Caecar J.L itu pantas menjadi yang terbaik karena, “Warna bunga unik dan jumlah bunga sangat banyak,” kata Lukas.

Dend. Golden Rood x Dend. Husmadi berwarna kuning keemasan dan kuning kecokelatan. Dalam satu pot terdiri dari 11 tangkai yang berbunga semua. Empat tangkai masing-masing terdiri dari 50 kuntum bunga yang sedang mekar. Sisanya, 7 tangkai, memamerkan 35-45 bunga. “Total bunga yang kuncup dan mekar mencapai 676 kuntum,” ujar Vincent, sang pemilik. Selain itu, susunan bunga rapat, rapi, dan seimbang sehingga terlihat menggerombol. Tangkai bunga sempurna tanpa ada yang kedodoran walaupun menahan sekitar 40 kuntum yang tebal dan cukup besar, berdiameter 4 cm.

Pesaing beratnya, Dendrobium trilamelatum, juga tak kalah istimewa. “Warna bunga lebih bagus daripada biasanya. Warna lebih tua dan cerah,” tutur Lukas. Dendrobium trilamelatum yang juga milik Vincent itu berwarna kecokelatan dengan perpaduan kuning keemasan. Jumlah bunga banyak, hampir 30 kuntum per tangkai. Susunan bunga berdiameter 2 cm itu rapi dan seimbang.

Di samping best of species, best of hybrid, dan best of show, kontes yang diselenggarakan PAI cabang Banjarmain bekerja sama dengan perumahan Citra Garden itu juga melakukan pemilihan best of species borneo. Kontestannya, pemenang anggrek spesies asal Kalimantan di setiap section.

Setelah proses voting yang berlangsung secara tertutup, akhirnya gelar juara jatuh ke Phalaenopsis amabilis var “Pleihari” koleksi Sukaesih, yang sempat tersingkir saat memperebutkan gelar best of species. Anggrek yang baru pertama kali ikut kontes itu pantas menjadi yang terbaik. Bunga putih mekar serempak dengan sosok bunga seperti phalaenopsis hibrida: bulat. Dengan semua keistimewaan para pemenang, wajar bila anggrek Banjarmasin patut perhitungkan di arena kontes. Kualitas anggreknya tak kalah dengan Jakarta, Bandung, dan Surabaya.